UIN Siber Cirebon – Komitmen dalam mewujudkan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual terus diperkuat di lingkungan Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Melalui Seminar Nasional bertajuk “Inklusi Tanpa Korupsi: Pilar Masa Depan Indonesia yang Adil bagi Perempuan dan Disabilitas”, Fakultas Syariah menegaskan tekadnya untuk menjadi garda terdepan dalam gerakan perlindungan perempuan, anak, dan penyandang disabilitas dari berbagai bentuk kekerasan serta diskriminasi.
Kegiatan yang berlangsung secara hibrida di Gedung Siber UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada Kamis (11/6/2026) ini diikuti dengan antusias oleh ratusan peserta. Latar belakang peserta yang hadir pun sangat beragam, mulai dari akademisi, mahasiswa (termasuk dari Jurusan Hukum Keluarga), aktivis gender, komunitas disabilitas, perwakilan Omah Cirebon Inklusif (OCI), hingga unsur Pemerintah Kota dan Kabupaten Cirebon.
Seminar nasional ini menghadirkan narasumber kompeten, salah satunya adalah Ketua Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Wilayah Cirebon, Hj. Fifi Sofiah. Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya membangun sistem perlindungan yang berpihak kepada kelompok rentan, khususnya perempuan dan penyandang disabilitas.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. H. Edy Setyawan, Lc., M.A., menegaskan bahwa kekerasan seksual merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang serius dan tidak boleh ditoleransi. Bagi rumpun keilmuan Hukum Keluarga, isu ini berkaitan erat dengan perlindungan hak-hak domestik, perlindungan anak, serta ketahanan keluarga yang inklusif.
Menurut Dekan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menjadi pelopor dalam menciptakan ruang aman bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
“Seminar nasional ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah konkret untuk menyamakan persepsi, memperkuat regulasi internal, serta memastikan korban mendapatkan perlindungan dan penanganan yang berkeadilan, terutama perempuan, anak, dan penyandang disabilitas,” tegas Dr. Edy Setyawan.
